Well, it used to be the most task I hate. Ceritanya dulu, saat mau lulus kuliah kalo ditanya mau kerja apa, ada dua yang ku jawab, tidak ingin di Bank dan jadi dosen. Nyatanya, 5 lamaran pekerjaan pertama ku semua applying ke bank BUMN, private, dan Bank Sentral, di Palembang hingga kantor pusat Jakarta. Semuanya hampir memasuki tahapan akhir, dan bahkan terhenti saat wawancara. Dulu masih idealis, kalo tak sejiwa maka tak mau kerja. Jadi waktu tes psikologi selalu gagal, dan waktu wawancara jg gagal. Contoh pertanyaan waktu wawancara, Bagian apa yang tidak anda sukai? marketing jawab ku. Bagian apa yang disukai ? Sistem analyst. Kembali dengan mantap selalu jawaban ku sama, dan untuk kesekian kalinya pula langkah ku terhenti. Baru ku ketahui bahwa mereka rata-rata mencari orang marketing. Apa boleh buat, bidang itu memang tak kusukai tp dak ada penyesalan hingga sekarang, wlw dulu ad kecewa etrutama keluarga besar yang sudah ngebayangin gw jadi Bankir di Jakarta
Dulu, bagi ku marketing itu pekerjaan yang penuh dengan politik sesat, melibatkan kebohongan demi keuntungan sebesarnya, bahkan menghalalkan segala cara, terkadang dibenci orang karena terkesan memaksa, di kejar-kejar target, sehingga tak akan nyaman dan enjoy dalam bekerja. Menawarkan produk seakan harus memelas memohon belas kasihan orang agar membeli produk mereka ( berdasarkan pengalaman dan baca referensi di luar dan dalam negeri : p) ….hmmm enggak banget bg gw tuk kerja seperti itu.
Tapi itu dulu, sekarang udah beda. Marketing tak seburuk itu. Kita tetep bisa memasarkan produk dengan elegant secara cerdas. Ditempat kerja ku saat ini menuntut kami berperan multitalent, sebagai HRD, sistem analyst, administratif task, EO, dan salah satunya sebagai marketer. Awalnya berat, namun lama kelamaan mulai menikmati. Marketing ke luar kota Lampung, Bengkulu pernah ku jalani, hitung-hitung jalan2 setelah penatnya tugas kantor ku jalani, tp kalo banyak task kadang ku tolak juga misal kemarin tiba2 ditugaskan ke Pangkal Pinang, pdahal baru2 minggu pulang dari Bandung studi lapangan. Dengan marketing mencoba merasakan susahnya mencari duit di jalanan
. Berpanas-panas, bermandi peluh, tak dianggap, diremehkan, dll. Semuanya dinikmati dan membuat gw makin bersuyukur bahwa perkejaan gw masih jauuuh lebih baik dari seorang salesman sebenarnya
.
Banyak kejadian saat marketing, mulai dikira masih anak kuliah, sampe ada yang ga percaya kalo gw udh S2 dan juga ada yang terbelalak saat gw kasih kartu nama…hahahaaaa. Kejadian terakhir yang paling sering terjadi, tiap kali kunjungan, kami diberlakukan sangat tidak nyaman oleh SDM di lokasi, disuruh menunggu lama tanpa minum atau kata2 satu pun, duduk di ruangan penuh dengan asap rokok bapak2 dan ibu2 yang asik makan jajanan sambil ngeliatin kami dengan pandangan agak ke bawah. dalam hati ku berkata, syukurlah ini bukan kantor gw, bisa stress gw kalo iya…ckckkkk… Namun setelah diskusi banyak, ketika akan pulang dan ku serahkan kartu nama, terlihat berubah eksepresi raut muka mereka dan kata-kata yang kear hampir tak beraturan lagi….wkwkkkkk, selalu jadi hiburan kami setelah dongkol di awal kunjungan.
Minggu lalu kembali di tune up dengan training Scale Up Ur Sales Potential setelah sebelumnya Service With Heart, sangat berguna buat meningkatkan keahlian gw sebagai Customer Care
, semua berawal dari hati, jika hati bersih, niat suci, InsyaAllah semua pekerjaan itu akan membawa kebaikan walau sekecil apapun, niatkan ibadah pada Nya saja
.
La hawlawalakuataillabillah, AllahuAkbar …