Istilah pekerja, karyawan, dan bawahan seolah memiliki arti yang sama padahal maknanya berbeda. Saya adalah seorang karyawan walaupun nyatanya tetap seorang pekerja dan bawahan. Tapi bukan berarti harus selalu pasif nunggu perintah atasan dan patuh dengan semua titahnya. Seorang karyawan, baik itu sebagai bawahan ataupun atasan dalam suatu unit kecil, seharusnya patuh pada visi dan misi perusahaan sehingga informasi yang diperoleh berkenaan dengan perusahaan baik atau buruk harus disampaikan pada big boss ( bukan asal boss senang dengan cari muka dan menjilat sana sini..amit amit dech) untuk kemudian dicari solusi terbaik. Seorang pekerja seolah-olah tidak diberikan pilihan selain menuruti perintah. Padahal seharusnya, sence of duty yang dimiliki oleh karyawan menggerakkannya untuk berkarya tanpa menunggu perintah. Sehingga tidak akan muncullah perasaan bahwa ia tidak dihargai, tidak diperhatikan oleh boss seolah-olah atasan tidak suka atas keberadaan atau hasil kerjanya ( ciri karyawan dengan kinerja rendah karena ia bahkan tidak tau nilai dirinya sendiri apa lagi sang atasan).

Jadi kita bekerja bukan tergantung siapakah leadernya, tapi kontribusi apa yang bisa kita berikan dalam team work. Berinisiasi, kreasi, dan inovasi apa yang bisa kita lakukan hingga bisa sukses capai misi yang ditargetkan. Bahkan jika leader ‘menyimpang’ dari misi, bawahan tetap leading up tanpa terpengaruh dengan berpegang pada keyakinan dan prinsip pribadinya meski harus jadi ‘pembangkang’ sekalipun demi misi perusahaan. Hilangkan pikiran bahwa kita hanya bawahan yang orang ‘suruhan’ dan bekerja sesuai perintah boss. Bekerja bukan karena mengejar pangkat atau jabatan (berakibat terjadinya politik kantor yang tidak sehat), tetapi untuk sebuah prestasi. Bekerja untuk menghasilkan karya terbaik, bermanfaat bagi semua orang, dan menjadikannya bagian dari ibadah pada Tuhan YME.

Advertisement