Industri kreatif adalah industri yang mengandalkan kreatifitas, keahlian dan bakat individu yang berpotensi untuk menghasilkan kekayaan dan menciptakan lapangan kerja dengan mengoptimalkan potensi intelektual yang dimiliki (www. unctad.org). Industri kreatif menjadi salah satu alternatif perekonomian dan saat ini menjadi perhatian banyak negara dunia karena mampu memberi kontribusi bagi perkonomian. Indutri ini bermodal utama sumber daya manusia yang kreatif , inovatif, dan bukan sumber daya alam yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan jika dieksploitasi terus menerus.
Negara-negara di dunia mulai memberikan perhatian khusus pada industri kreatif. Misalnya United Kingdom (UK), China, dan Singapura. Untuk Singapura, sebagai negara berbasis ekonomi industri, industri kreatif menyumbang 1.9% dari GDP (gross domestic product) pada tahun 2000 dengan pertumbuhan 17.2% per tahun. Di UK, 7.9% GDP tahun 2000 dikontribusi oleh industri kratif dengan pertumbuhan pertahun sebesar 9%. Angka ini lebih besar dibandingak sector ekonomi lainnya yang saat itu hanya berkembang 2.8% (UNESCO). China bahkan tercatat sebagai pengekspor produk hasil industri kreatif terbesar di dunia tahun 2008 dengan kontribusi sebesar 19% (UNCTAD,). Diperkirakan pertumbuhan industi ini akan meningkat tiap tahunnya rata-rata sebesar 10% serta 7% dari GDP. Industri kreatif di Indonesia telah memberikan kontribusi sebesar 6,28% dari total produk domestik bruto 2002-2006 dan menyerap 5,8% dari total tenaga kerja nasional. Omset indutri kreatif di Indonesia tahun 2006 sebesar Rp 105 triliun dan ditargetkan meningkat 7% tahun 2009. Angka ini cukup menjanjikan industri kreatif sebagai solusi masalah penggangguran ditengah krisis ekonomi dunia saat ini, terutama bagi negara-negara berkembang dan khususnya Indonesia yang selalu terbentur masalah finansial ketika ingin mengembangkan suatu industri konvensional.
Industri kreatif dibagi menjadi sejumlah sektor oleh pemerintah, yaitu arsitektur, desain, kerajinan, layanan IT dan perangkat lunak, fesyen, music, pasar seni dan barang antik, penerbitan, periklanan, permainan interaktif, seni pertunjukan, televisi dan radio, video, film, dan fotografi. Semua bidang tersebut membutuhkan kreatifitas dan keahlian dibidang seni budaya juga teknologi. Substansi utama pengembangan industri kreatif menurut Economic Survey of Singapore tahun 2003 adalah creative manpower, pasar, dan infrastruktur. Indonesia memiliki ketiga substansi tersebut.
Indonesia kaya akan budaya dan seni, limpahan sumber daya dan keindahan alam yang dapat dieksploitasi tanpa harus merusaknya dan menghasilkan nilai ekonomis bagi masyarakat. Jumlah sumber daya manusia yang lebih dari 200 juta orang merupakan potensi besar dalam mengembangkan industri kreatif yang menjadikan kreatifitas dan inovasi individual sebagai modal utama.
Selain sumber daya alam dan manusia, pemanfaatan teknologi untuk menciptakan industri kreatif juga cukup berpotensi. Saat ini TIK (Teknologi Informasi Komunikasi) tumbuh pesat di Indonesia dan sudah dapat diakses oleh siapa saja dengan mudah dimanpun dan kapanpun. Pemerintah juga telah berupaya memanfaatkan TIK dalam mempercepat kemajuan dunia pendidikan dalam rangka membangun sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan kompetitif dengan bangsa lain. Kondisi ini telah memberikan pondasi kuat dalam membangun ekonomi kreatif di Indonesia.
Menteri Perdagangan, Mari E. Pangestu mengatakan (dalam ajang Indonesia Information and Communication Technology Award 2008 ) bahwa pasar ekonomi kreatif hanya akan terbentuk jika kita punya IT literacy tinggi dan sebesar-besarnya masyarakat mengakses IT. Menurutnya, tiga aspek penting peranan TIK dalam menciptakan industri kreatif, yakni sebagai alat menciptakan produk, industri, dan alat untuk memahami pasar.
Di Singapura, layanan IT dan perangkat lunak memberikan kontribusi terbesar dalam industri kreatif dengan pertumbuhan yang sangat cepat (Economic Survey of Singapore, 2003) antara lain dalam pembuatan game online yang marak saat ini dan juga berkembang di Indonesia. Sejumlah prudusen game lokal bahkan dapat menembus pasar dunia dengan game online berbiaya rendah (Kompas, 2008 ) dan berdampak pada penambahan devisa negara. Parapelakunya berlatar belakang beragam pendidikan, S1 bahkan SLTA sekalipun turut berkarya dan mencari pasar produk game mereka hanya bermodalkan kretifitas dan komputer. Kegiatan yang bersumber dari hobby, berkembang menjadi kreatifitas dan berujung pada produktifitas bernilai ekonomis membuat industri kreatif sebagai industri yang cukup menjanjikan kesejahteraan bagi masyarakat Indonesia khususnya Sum-sel sebagai propinsi kelima terkaya.